• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Showing posts with label artikel islam. Show all posts
Showing posts with label artikel islam. Show all posts

Wednesday, October 23, 2013

Apa arti lapang dada?

lapang dada adalah Keluasan hati memiliki arti kepemilikan jiwa yang lapang dan besar seperti ban traktor yang dapat berjalan di semua medan baik ringan maupun berat. Oran yang tidak memiliki kelapangan dada seperti ban sepeda yang ketika menghadapi cobaan pertama oleng ke kiri dan ke kanan.
Imam Ali as berkata: “Syarat wajib menerima sebuah tanggung jawab adalah kelapangan dada” (Nahjul Balaghah, hikmah ke 176).
Nabi Musa as setelah menjadi Nabi ia berdoa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku” (Thaha: 27). Di sini terlihat bagaimana Nabi Musa as meminta dari Allah agar melapangkan dadanya dan Allah mengabulkanya. Beda dengan Nabi Musa as, Nabi Muhammad saw tanpa meminta Allah telah terlebih dahulu melapangkan dadanya “Bukankah kami Telah melapangkan untukmu dadamu? (Alam Nasyrah:1).[infosyiah]

Tuesday, October 2, 2012

Renungan untuk suami-suami: Bila Istri Cerewet

Oleh : Ahmad Bustam 

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun? Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut? 
1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah 
 Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani. 
3. Penjaga Penampilan 
 Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu 
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu. 
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami. Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya. 
 WallahuAlam. 

sumber : http://www.dudung.net/artikel-islami/renungan-untuk-suami-suami-bila-istri-cerewet.html

Thursday, December 22, 2011

Wanita

Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
“Sederhanakan atas wanita dalam berpakaian, sesungguhnya salah seorang dari mereka apabila memiliki banyak pakaian dan perhiasan yang bagus maka akan membuat ia senang keluar rumah.”
(Fath Al-Qadir, IV/347)

Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Tidaklah setan berputus asa dari menggoda manusia, melainkan ia akan menggodanya dengan wanita. Dan tidak ada dari sesuatu yang lebih aku takuti daripada wanita.”
(Shifatu Ash-Shafwah, II/80)

Cinta Dunia, Harta dan Kedudukan

Huzhaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anahu berkata :
“Hendaklah kalian menjauhi sumber dari fitnah.” Ada yang bertanya, “Apa itu?” Huzhaifah menjawab, “Pintu-pintu penguasa, salah seorang diantara kalian memasuki tempat tinggal seorang penguasa, lalu dia membenarkan dirinya dengan cara dusta dan mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.”
(Minhaj Al-Qashidin, 25)

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi umat ini melainkan tiga hal; cinta kepada dunia dan dirham, cinta ketenaran dan mendatangi pintu-pintu penguasa.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 245)

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Hanyasanya dunia adalah satu bagunan dari akhirat.”
(Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala, I/394)

Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Tidak ada kebaikan pada diri seseorang yang tidak ingin mengumpulkan harta dengan cara yang halal, yang dengan harta itu dia tidak membutuhkannya dari bantuan orang lain, yang dengan harta itu dia dapat menjalin hubungan persaudaraan dan mengeluarkan sesuai dengan haknya.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 185)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Harta pada masa kami merupakan senjata bagi kaum mu’minin.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 185)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Tidaklah seseorang yang berilmu itu bertambah dekat kepada Allah, manakala ia semakin bertambah dekat dengan dunia, melainkan ia akan bertambah jauh dari Allah.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, II/232)

Sa’id bin Amir bin Hudzaim Rahimahullah berkata :
“Dunia telah datang kepadaku, maka fitnah telah masuk ke dalam diriku.”
(Ibnul Jauzi, Shifatu Shafwah, I/665)

Wahhab bin Munabih Rahimahullah berkata :
“Bahwa Isa bin Maryam pernah berkata kepada Hawariyyin, ‘Orang yang paling tersiksa dengan musibah diantara kalian adalah yang paling cinta kepada dunia’.”
(Siyar A’lam An-Nubala, IV/551 dan Hilyatu Al-Auliya, IV/67)

Fudhail bin Iyadh Rahimhaullah berkata :
“Lima tanda penyebab penderitaan, kerasnya hati, jalangnya pandangan, sedikitnya perasaan malu, ambisi terhadap dunia dan panjang angan-angan.”
(Tahdzib Madariju As-Salikin, II/261)

Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata :
“Dirham itu bagaikan kalajengking, jika engkau tidak dapat mewaspadainya, maka jangalah engkau mengambilnya, sebab jika sampai ia menyengatmu maka racunnya dapat membunuhmu.”
(Muhkatashar Minhaj Al-Qashidin, 185)

Maimun bin Mahran Rahimahullah berkata :
“Bergaul dengan para penguasa mempunyai dua bahaya, jika engkau mentaatinya, maka itu akan membahayakan diri kalian; dan jika kalian mengingkarinya, maka itu bahaya bagi diri kalian. Dan yang paling selamat adalah penguasa tidak mengenalimu.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 246)

Ibnu Samak Rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang merasakan manisnya dunia, niscaya dia akan cenderung kepadanya. Keinginannya akan terpecahkan oleh akhiratnya yang mengeringkannya dari dunia.”
(Shifatu Ash-Shafwah, III/176)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :
“Tidaklah dalam dunia suatu kenikmatan yang menyerupai kenikmatan akhirat, kecuali nikmat iman dan kebaikan.”
(Majmu Fatawa, XXVII, 32)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :
“Berhati-hatilah kalian dari dua golongan manusia, orang yang menuruti hawa nafsunya yang telah tertipu dengan hawa nafsunya; dan ahlu dunia yang telah ditenggelamkan oleh dunianya.”
(Iqtidha Shirathil Mustaqim, 5)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah berkata :
“Akan ada di akhir zaman ini suatu kaum amalan paling utama mereka adalah saling mencela diantara mereka, mereka dinamakan al-atyan.”
(Al-Fawaid, 149)

Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisi Rhimahullah berkata :
“Harta itu bagaikan ular yang di dalam tubuhnya terdapat racun dan obat penawarnya, obat penawarnya itu bermanfaat dan pada sengatannya ada racun. Maka barasiapa mengetahui manfaat dan sengatannya akan memungkinkan baginya mewasapai keburukannya, namun ia juga mengetahui kebaikannya.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 185)

Riya

Qatadah Rahimahullah berkata :
“Sulaiman berkata, ‘Jika kamu berbuat buruk dengan diam-diam, maka berbuatlah kebaikan dengan diam-diam pula, namun jika kamu berbuat buruk dengan terang-terangan, maka berbuatlah kebaikan dengan terang-terangan pula, sehingga diharapkan ia menjadi penebusnya’.”
(Jami’u Al-Ulum wa Al-Hikam, 164)

Abu Sulaiman Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya orang yang merugi adalah orang yang memperlihatkan setiap amalan kebaikannya kepada manusia dan menyembunyikan amalan buruknya kepada Dzat yang lebih dekat dengan dirinya dari urat nadi (Allah Ta’ala).”
(Jami’ul Al-Ulum wa Al-Hikam, 162)

Bahaya Lisan



Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak ada yang lebih berhak untuk dipenjarakan secara berkepanjangan selain dari lisanku.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 155)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam berbicara, manusia itu hanya melakukan untuk memenuhi kebutuhannya saja.”
(Jami’u Al-Ulum wa Al-Hikam, 134)

Muhammad bin Ajalan Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya perkataan itu hanya ada empat tempat, yaitu : dzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, engkau ditanya tentang ilmu lalu engkau jawab, dan berbicara dengan hal-hal yang bermanfaat dari urusan dunia.”
(Jami’u Al-Ulum wa Al-Hikam, hal. 134)

Samit bin Ajalan Rahimahullah berkata :
“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau diam engkau akan selamat, maka apabila engkau berbicara berhati-hatilah, karena perkataan itu akan menjadi penolong bagimu atau bumerang bagimu.”
(Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, 135)

Abdullah bin Mu’taz Rahimahullah berkata :
“Jika amal seseroang itu sempurna, maka ia tidak akan banyak bicara.”
(Madariju As-Salikin, II/52)

Ali bin Hasan Rahimahullah berkata :
“Jangan engkau mengghibah, karena ghibah itu makanan/lauk anjing (manusia).”
(Ibnu Qudmah, Minhaj Al-Qashidin, 159)

Abu Bakar bin Ayasy Rahimahullah berkata :
“Saya melihat manfaat diam itu adalah keselamatan dan menjaganya merupakan suatu ampunan dan melihat bahaya perkataan adalah ingin menjadi terkenal dan cukuplah ia menjadi musibah baginya.”
(Siyar A’lam An-Nubala, VIII/501)

Al-Hakim Rahimahullah berkata :
“Cukuplah seseroang disebut cacat, apabila ia menyembunyikan hal-hal yang membahayakannya.”

Banyak Omong

Umat bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
“Barangsiapa banyak bicara, banyak salahnya. Barangsiapa banyak salahnya, banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah yang pantas bagi mereka.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 33)

Al-Auza’i Rahimahullah berkata :
“Orang mu’min itu sedikit bicara dan banyak beramal, sedangkan orang munafik itu banyak bicara dan sedikit baramal.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 32)

Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata :
“Hati itu laksana periuk yang akan mendidihkan apa-apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisan bagaikan gayungnya, maka lihatlah seseorang ketika ia berbicara karena lisannya mengakui apa yang ada dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin dan lain sebagainya. Dan lisan akan menjelaskan kepadamu keadaan hatinya.”
(Jawabu Al-Kafi, 375)

Abu Abdillah Al-Bukhari Rahimahullah berkata :
“Aku berharap ketika aku berjumpa dengan Allah, dalam keadaan Dia tidak menghisabku karena aku telah mengghibah seseorang.”
(Aina Nahu min Akhlaqi As-Salaf, 127)

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata :
“Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali atas satu dari dua orang; seorang pendiam yang pandai dan seorang bijak dalam berkata.”
(Siyar A’lam An-Nubala, VIII/36)

Sebagian salaf berkata :
“Termasuk fitnah bagi seseorang yang faqih (berilmu) adalah ia suka berkata daripada diam.”
(Adab Asy-Syar’iyyah, II)

Tamak

Abu Hazim Rahimahullah berkata :
“Tiga perkara yang berada di dalamnya, maka menunjukkan kesempurnaan akal seseorang; yang mengenal dirinya sendiri, menjaga lidahnya dan puas terhadap apa yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadanya.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 188)

Sulaiman bin Dawud Rahimahullah berkata :
“Telah kami coba seluruh jenis kehidupan dari yang lunak sampai yang keras dan kami mendapatkan kecukupan pada yang sedikit.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 188)

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata :
“Ketahuilah obat tamak/rakus ada 3, yaitu sabar, ilmu dan amal.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 188)

Hasad, Iri dan Dengki



Ibnu Sirin Rahimahullah berkata :
“Aku tidak mendengki seseorangpun karena urusan dunia, sebab jikalau ia adalah penduduk surga, maka bagaimana aku mendengkinya karena suatu urusan dunia, karena ia akan menjadi salah seorang penghuni surga, sedangkan bila ia termasuk penghuni neraka, maka bagaimana mungkin mendengkinya untuk urusan dunia, padahal ia akan menjadi penghuni neraka.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 175)

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata :
“Hasad adalah penyakit hati yang parah, penyakit hati tidak akan bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal, ilmu manfaat yang dapat menyembuhkan penyakit hati. Hasad adalah penyakit berbahaya bagimu, bagi agama dan duniamu dan tidak akan membahayakan pada orang yang dihasadi dalam urusan agama dan akhiratnya, bahkan akan menjadi suatu kenikmatan yang terus menerus akan ia dapat dengan perbuatan hasadmu.”
(Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, 178)

Sombong



Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata :
“Ada seseorang yang berkata kepada orang lain, ‘Aku lebih mulia darimu,’ padahal tidak ada seseorang yang lebih mulia daripada yang lain kecuali karena ketaqwaan.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qashidin, 217)

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak ada yang lebih kami cintai selain dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, jika mereka melihat kedatangan beliau, mereka tidak berdiri, karena mereka mengetahui beliau tidak menyukai yang demikian itu.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qashidin, 218)

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :
“Kalau engkau mengkhawatirkan sikap ujub atas amalmu, maka ingat ridha siapa yang menjadi tujuanmu, dan dalam kenikmatan mana engkau berharap, dan dari siksa yang mana engkau hindarkan, karena barangsiapa yang mengingat hali tu, maka amal-amalnya akan nampak kecil di mata.”
(Siyaru A’lam An-Nubala, X/42)

Masruq Rahimahullah berkata :
“Cukuplah seorang itu dikatakan alim jika ia merasa takut kepada Allah, dan cukuplah seorang itu dikatakan bodoh jika ia merasa ujub dengan amlnya sendiri.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 229)

Wahab bin Munabbih Rahimahullah berkata :
“Perhatikanlah tiga hal apa yang aku sampaikan ini; waspadalah terhadap hawa nafsu yang dituhankan, teman yang jahat, dan sikap ujub terhadap diri sendiri.”
(Siyaru A’lam An-Nubala, IV/190)

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata :
“Takabur (sombong) itu merupakan akhlak batin yang muncul karena amal, yang berarti takabur merupakan buah dari amalan, lalu tampak dalam tindakan amalan badan. Akhlak ini merupakan hasrat untuk menampakkan diri dihadapan orang yang akan disombongi, agar ia terlihat lebih hebat dari yang lainnya, dengan memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Pada saat itulah dia menjadi orang yang sombong.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qashidin, 215)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata :
“Akar kesalahan itu ada tiga hal yaitu takabur, itulah yang menjerumuskan iblis kepada kedudukan yang hina; tamak, itulah yang mengeluarkan Adam dari surga; Hasad, itulah yang menyebabkan salah satu anak Adam membunuh saudaranya.”
(Al-Fawa’id, 64)

sumber : berbagai sumber

Setan dan Hawa Nafsu



Mukhallad Rahimahullah berkata :
“Tidaklah Allah memerintahkan hambaNya sesuatu, melainkan Iblis menghambatnya dengan dua cara, dan dia tidak peduli dengan yang mana dia akan berhasil mempengaruhinya; apa dengan sikap yang berlebih-lebihan atau dengan sikap meremehkan.”
(Talbis Iblis, 42)

Yusuf bin Asath Rahimahullah berkata :
“Diciptakannya hati itu sebagai tempat berdzikir, kemudian jadilah sebagai tempat syahwat. Tak ada yang mampu menghilangkan syahwat kecuali ketakutan yang menimpa atau kerinduan yang mengguncang.”
(Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala, II/702)

Sufyan bin Uyainah Rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang bermaksiat karena memenuhi hawa nafsunya, maka suruhlah ia untuk bertaubat. Sesungguhnya Nabi Adam bermaksiat dikarenakan mengikuti hawa nafsunya, maka diampuni oleh Allah dosanya. Namun barangsiapa yang bermaksiat karena sombong, maka ancamlah pelakunya dengan laknat Allah kepadanya. Karena sesungguhnya iblis bermaksiat karena kesombongannya, maka iapun dilaknat oleh Allah.”
(Shifatu Ash-Shafwah, II/232)

Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya dinamakan hawa nafsu dengan ahwa (terjerumus) dikarenakan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 261)

Mujahid Rahimahullah berkata :
“Aku tidak tahu nikmat mana yang lebih besar yang dianugerahkan Allah kepadaku; apakah Allah menunjukkan Islam kepadaku atau mengampuni (kesalahan yang disebabkan) hawa nafsuku.”
(Tanbihu Al-Ghafilin, 261)

As-Suffah Rahimahullah berkata :
“Jika kemampuan seseorang (dalam menahan syahwatnya) besar, maka akan melemahlah syahwat tersebut, kecuali dalam hal-hal yang sudah menjadi haknya. Sabar adalah sebuah kebaikan terhadap sesuatu yang menghancurkan agama dan menghinakan penguasa (yang shalih).”
(Tahdzibu Siyaru Al-A’lam An-Nubala, II/520)

sumber : berbagai sumber

Bid’ah



Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak akan datang kepada manusia suatu masa, kecuali manusia di dalamnya melakukan bid’ah dan mematikan sunnah, hingga bid’ah akan tersebar luas dan sunnah-sunnah akan menjadi padam.”
(I’tisham, I/46)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat, orang yang melakukan maksiat ia akan bertaubat darinya, sedangkan ahlul bid’ah ia tidak bertaubat dari kebid’ahannya.” (Talbis Iblis, 21)

Luqman bin Idris Al-Khaulany Rahimahullah berkata :
“Tidaklah suatu umat mendatangkan suatu bentuk kebid’ahan, melainkan diangkat semisal perbuatan bid’ah itu hal yang sunnah.”
(Al-I’tisham, I/46)

sumber : berbagai sumber

Monday, December 19, 2011

Kandungan QS. Adz Dzariyat ayat 56

Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua alam semesta ini.

Seperti diutarakan pada surat Al Mukminun ayat 12-14 bahwa Allah SWT yang menciptakan manusia dari saripati tanah yang terkandung dalam tetesan air yang hina, yaitu air mani, oleh karenanya merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk menyembah penciptanya, yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia diantara makhluk lainnya.

Penjelasan QS. Adz Dzariyat ayat 56

Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun (taat, tunduk, patuh). Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.

Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT

Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi :

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)

Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.

Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.